Belajar Piano Usia Dini


Terkadang para orang tua bingung menggali bakat anaknya sejak usia dini. 9 dari para orang tua lebih memilih musik untuk menggali bakat anaknya. Piano adalah alat musik yang lebih banyak diminati, karena mereka sadar bahwa piano bermanfaat untuk pendidikan di bidang lainnya.

Dua tahun yang lalu, orang tua dari si anak di video ini mencari tempat les piano untuk anaknya di usia 3 tahun. Kebanyakan sekolah musik menolak menerima karena di usianya yang sangat dini. Dan akhirnya si orang tua menitipkan anaknya kepada kami bawasannya kami memang membuka les piano untuk usia dini. Dengan ketelatenan kami mengajarkan piano untuk usia dini ini tidak dengan paksaan, tentunya dengan kegiatan menarik dalam kelas maupun di luar kelas (out door learning) sehingga si anak merasa senang belajar musik di kami.

Berikut rekaman video salah satu murid kami pada saat belajar piano di kelas.

Musik Hasil Kebudayaan


Musik.. kata yang tidak asing kita dengar. Ada yang mengartikan musik itu alunan irama dan lagu, ada lagi yang mengartikan keharmonisan suara, juga ada yang mengartikan suara yang dihasilkan dari alat-alat musik (instrument) dan vokal. Tentunya, saya tidak bisa menjabarkan satu per satu karena butuh pemahaman yang luas tentang arti musik.

Mari kita pejamkan mata dan hening sejenak beberapa detik,… Apa yang kita dengar?.. Apa yang kita rasakan?.. Bisa saja kita mendengar suara bising di tengah kota, bisa saja kita mendengar suara televisi atau radio, bisa juga kita mendengar suara di sawah ataupun kebun atau di hutan.

Terlintas di pikiran saya jutaan tahun yang lalu, seperti apa yang kita dengar saat itu. Alam menciptakan musik, saya membayangkan suara angin dan hewan terdengar dengan harmonisnya. Sampai akhirnya di zaman purbakala. Sejarah musik sudah dimulai pada zaman purbakala (Sejarah Musik Dunia 1). Musik tidak memiliki tujuan tersendiri, musik sebagai alat saja yang menghasilkan bunyi, media baik komunikasi ataupun untuk ritual magis mereka. Magis pada musik itu mereka tinjau dari tiga segi, yaitu : 1. Segi irama, tekanan-tekanan mereka membuat sendiri dengan hentakan kaki dan alat pukul yang mereka buat sendiri. 2. Segi pengulangan beberapa kali, menurut aturan yang berlaku pengulangan berkali-kali diperbolehkan. 3. Segi permainan, cara-cara diatur dan dikhususkan untuk fungsi magis.

Ketiga sifat itu terkandung dalam nyanyian dan tari yang mereka lakukan saat mereka berkumpul. Musik primitif nantinya akan diikuti oleh musik kuno yang tersebar di sebagian Eropa pada 1500 SM dan kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia, meskipun di beberapa belahan dunia sudah memiliki musik sendiri.

Bangsa Tiongkok memiliki catatan tentang musik dari orang-orang Tiongkok purba. Ada 482 buku karangan mereka yang masih tersimpan. Mereka menggunakan tangga nada pentatonis, yaitu tangga nada yang terdiri dari lima nada: F, G, A, C, D. Kurang lebih tahun 1200 SM, tangga nada pentatonis tersebut ditambahkan dua nada lagi, yaitu nada B dan E. Menurut teori mereka, satu oktaf dibagi atas 12 nada. Hal ini sudah mereka temukan kurang lebih sejak 2700 tahun sebelum masehi yang berarti lingkaran Kwin telah mereka ketahui jauh sebelum Phythagoras (550 SM).

Di Mesir tidak ada catatan peninggalan dari zaman Mesir purba. Pada gambar patung di bawah ini merupakan kehidupan masyarakat mesir kuno menunjukkan bahwa mereka sudah banyak menggunakan musik.

220px-LowClassAncientEgyptianStatuettes

Gambar : Mesir Kuno (wikipedia)

Di India nada primer orang Hindi ada 7 buah nada. Mereka membagi tangga nada mereka menjadi 22 bagian yang berbeda dalam satu oktaf. Mereka menggunakan 32 tangga nada turunan, dari tangga nada yang bermula dari A. Ritual keagamaan merupakan satu-satunya sifat musik India.

Gambar : Alat musik India (wikipedia)

 

Interval nada pada musik Arab sudah mencapai pembagian dalam 1 oktafnya. Hanya saja musik Arab tidak setua musik Hindu/India, kira-kira pada tahun 600 SM. Bangsa Israel sudah lama mencintai musik dan nyanyian, tujuannya untuk menambah kerohanian. Tulisan musik juga sudah mereka kenal, yaitu tulisan musik neginot.

Bangsa Yunani dapat disebut bangsa pemilik musik kuno terpenting. Bangsa Yunani kuno juga terkenal dengan musik. Bangsa Yunani kuno menggunakan musik untuk keperluan ritual kepercayaan. Lima abad sebelum Masehi, musik Yunani yang tergolong etnis-religius ini bagi mereka sangat tinggi kedudukannya. Musik, puisi dan tarian berhubungan dengan erat.

Lira Yunani kuno

Gambar : Alat musik Yunani kuno (wikipedia)

 

Di Indinesia memiliki ratusan alat musik yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. Setiap etnis di Indonesia memiliki alat musik/karawitan tersendiri yang khas, hal tersebut terbentuk dari budaya etnis masing-masing. Budaya dari etnis Sumatra tentu berbeda dengan Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi dan etnis Indonesia bagian timur lainnya. Hal inilah yang membuat Indonesia kaya akan keaneka ragam kesenian salah satunya seni musik.

Dari catatan Yi Jing, seorang pendeta Budha dari Dinasti Tang, yang berkunjung ke Nusantara pada abad ke-6, dia menyebutkan ada sebuah kerajaan yang dikenal dengan Moloyu (Melayu), yang berjarak 15 hari pelayaran dari Sriwijaya. Etnis Melayu ini tersebar dari Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Semenajung Malaya. Setiap etnis melayu di masing-masing wilayah mempunyai adat istiadat berbeda-beda sehingga lahir kesenian yang merupakan hasil budaya dari masing-masing daerah. Di Sumatra terkenal dengan kesenian talempongnya begitu pula di kalimantan dengan alat musik sape.

Di Jawa dibuktikan terdapatnya pahatan tentang sebuah pertunjukan musik pada relief candi Borobudur yang berdiri pada abad ke 8 pada masa wangsa Syailendra

Berkas:Musician Borobudur.jpg

Gambar : Sebuah pertunjukan musik kemungkinan bentuk awal gamelan.

 

Alat musik sebagai benda hasil budi daya (Budaya) manusia. Musik sebagai hasil kebudayaan juga mengalami kemungkinan yang sama dengan kebudayaan itu sendiri dalam pertumbuhannya. Sedangkan dalam perkembangannya sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor diantaranya Lingkungan Alam (masyarakat) dan Pencampuran sebagai akibat adanya pertemuan antar etnis/bangsa di dunia.

 

 

Indonesia Raya Versi Nusantara


Lagu Indonesia Raya merupakan lagu kebangsaan negara kita (Indonesia). Lagu ini diciptakan oleh Wage Rudolf Soepratman. Pada tanggal 28 Oktober 1928 lagu ini dikenalkan pada saat Kongres Pemuda II di Batavia. Lagu ini menandakan kelahiran pergerakan nasionalisme seluruh nusantara di Indonesia yang mendukung ide satu “Indonesia” sebagai penerus Hindia Belanda, daripada dipecah menjadi beberapa koloni. Indonesia Raya dipilih sebagai lagu kebangsaan ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Lagu Indonesia Raya dinyanyikan diberbagai ceremonial, yaitu pada saat upacara pengibaran bendera, di awal berbagai acara, dll. Lagu Indonesia Raya ini terdiri dari 3 bagian, yaitu :
Bagian 1 : “Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri jadi pandu Ibuku
Indonesia kebangsaanku bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru Indonesia Bersatu”
Bagian 2 : “Hiduplah tanahku hiduplah negriku bangsaku rakyatku semuanya. Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”
Bagian 3 : “Indonesia Raya Merdeka! Merdeka!, tanahku, negriku yang kucinta. Indonesia Raya Merdeka! Merdeka! Hiduplah Indonesia Raya. Indonesia Raya Merdeka! Merdeka!, tanahku, negriku yang kucinta. Indonesia Raya Merdeka! Merdeka! Hiduplah Indonesia Raya.

Di bagian pertama, Indonesia adalah Nusantara yang terdiri dari banyak pulau merupakan satu tanah kita, tanah kelahiran kita, tempat kita berpijak. Di bagian ini Indonesia Raya dinyanyikan dengan Maestoso (Agung). Di bagian tengah, Indonesia dengan keindahan dan kemakmuran negerinya, tanah yang subur serta rakyat yang makmur. Di bagian ini Indonesia Raya dinyanyikan dengan khimat. Bagian terakhir Indonesia Raya dinyanyikan dengan penuh semangat yang merupakan tujuan dari penciptaan lagu tersebut yaitu mengajak bersatu untuk merdeka.
Lagu Indonesia Raya dinyanyikan diberbagai ceremonial, yaitu pada saat upacara pengibaran bendera, di awal berbagai acara. Lagu Indonesia Raya pertama kali di arrangement oleh orang Belanda yaitu Jos Cleber pada tahun 1950 (wikipedia) dengan dengan arrangement simfony. Rekaman asli dari Jos Cleber sejak pada tahun 1950 direkam secara bersuara stereo pada tanggal 1 Januari 1992 dan direkam kembali secara digital di Australia dengan arrangement Jos Cleber oleh Victoria Philharmonic Orchestra di bawah konduktor oleh Addie Muljadi Sumaatmadja.

Selain diarrangement simfony Lagu Indonesia Raya juga diarrangement dengan iringan Marching Band pada saat upacara pengibaran dan penurunan bendera Merah Putih.
Indonesia adalah negara yang memiliki bermacam-macam etnis, banyaknya etnis di Indonesia membuat kebudayaannya sangat kaya dan beragam. Dibidang seni musik misalnya, Indonesia adalah rumah bagi berbagai musik etnik, memiliki beragam jenis musik etnik terbanyak dari pada negara-negara lain. Kurang lebih 223 alat musik yang ada Indonesia.

Dengan melihat sejarah lagu Indonesia Raya yang begitu nasionalisme, penulis ingin mengarrangement Lagu Indonesia Raya dengan versi ke-Indonesiaan yang kental dan menunjukkan Indonesia adalah Nusantara yang terdiri dari beribu pulau, berbagai macam suku dan kaya budayanya. Dengan nuansa Nusantara lagu Indonesia Raya tetap dilantunkan dengan agung, khidmat dan penuh semangat. Penulis tetap membawa rasa nasionalisme melalui musik dengan melibatkan musisi dari berbagai suku. Penulis berharap dengan arrangement yang diciptakan dapat dinikmati semua kalangan di Indonesia maupun pecinta musik etnis Indonesia yang ada di luar negeri.
Arrangement lagu Indonesia Raya dengan komposisi alat musik etnis Indonesia, antara lain :Rebab (Jawa, Kampar, Pasisia), Sape, Sasando, Gamelan Jawa Ansamble, Ritmis Bambu, Suling Batak, Suling Sunda, Saluang, Kendang (Ciblon, Jaipong, Bali), Jimbe, Angklung
Ansamble, Sronen, Kenong Telok, Kolintang Ansamble, Kethuk Bali, Maracas.
terdiri dari 11 unsur etnik di Indonesia antara lain : Nusa Tenggara Timur, Kalimantan (Dayak), Papua, Sumatra (Riau, Batak, Padang), Sunda, Jawa, Bali, Madura, dan Minahasa.
Dengan dibuatnya karya ini saya lebih senang menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya lebih bangga menjadi orang Indonesia. Alangkah indahnya jika orang Indonesia bisa hafal dengan syairnya karena karya ini, yang selama ini tidak banyak orang Indonesia hafal dengan lagu kebangsaannya sendiri.

“INDONESIA RAYA”
Ciptaan : W. R. Soepratman

Producer : Agoessam
Music Arranger : Eldian Nilam
Vocal : Iroel Mpal
Backing Vocal : Ganzer Lana, Tina Warau, Beatrix Thenu, Jhony Thenu, Chib, Wildan
Ethnic Player : Eldian Nilam, Uyau Morist, Ganzer Lana,Chib, Galih Kusuma, Deddy Kurniawan & Tim Kolintang SMPK St. Clara,

Additional Player : Dimas Febrianto, David Ananias, Mot, Frendy Satrio Palindo, Zisyon,
Ethnic Instrument : Rebab (Jawa, Kampar, Pasisia), Sape, Sasando, Gamelan Jawa Ansamble, Ritmis Bambu, Suling Batak, Suling Sunda, Saluang, Kendang (Ciblon, Jaipong, Bali), Jimbe, Angklung Ansamble, Sronen, Kenong Telok, Kolintang Ansamble, Kethuk Bali, Maracas.

Director : Agoessam
DOP : Agoessam, Moth
Choreography : Agoessam, Eldian Nilam, Ganzer Lana
Cameramen : Moth, Agoessam, Farid, Salman
Aerial Footage : Aerialindonesia.net
Video Footage : Agoessam
Equipment Support : Bintangpagi Production

Music Studio Recording
Record Vocal : Daztanians Production
Record Kendang & Kecak : Rain Paper
Record Sasando, Suling, Saluang & Vocal NTT : My Musicality
Record Sape : Morist Home Studio,
Record Rebab & Jimbe : Bintangpagi Production
Mixing : My Musicality

Thxs to :Tuhan YME, Teman-teman di Taman Baca Leda Bintang, Dsn Ranuagung-Probolinggo, SMPK St.Clara Surabaya, SDN Petemon II Surabaya,
Zisyon & Ronald, Mutiara, Salman, Panca, Dimas Hamzah, farid,
Bintangpagi Production, dan semua pihak yang telah membantu dan mensupport terselesainya karya ini.

Seni Karawitan Di Indonesia Dan Di Luar Negeri


Seni Karawitan merupakan salah satu cabang seni di Indonesia sebagai seni bunyi dan berhubungan dengan keindahan suara. Seni bunyi ini tidak hanya untuk mendukung aneka ragam lagu ( seni tarik suara ), namun juga mendukung kesenian lainnya seperti seni tari, wayang dan teater.
Karawitan berasal dari bahasa jawa yaitu rawit yang berarti rumit, berbelit-belit, tetapi rawit juga berarti halus, cantik, berliku-liku dan enak. Kata jawa karawitan khususnya dipakai untuk mengacu kepada musik gamelan, musik Indonesia yang bersistem nada non diatonis ( dalam laras slendro dan pelog ) yang garapan-garapannya menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi pathet dan aturan garap dalam bentuk sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang indah didengar.
Persepsi ini banyak orang mengira seni karawitan adalah gamelan (Seni Karawitan Jawa). Padahal Seni Karawitan di Indonesia berbagai ragam bahkan dipelosok yang belum terketahui.
Seni Karawitan di Indonesia antara lain :
1. Sarunee Kalee dari Aceh, 01 Sarunee Kalee (Aceh).mp3
2. Rapa’i Uroh dari Aceh, 02 Rapa'i Uroh (Aceh).mp3
3. Gambus dari Sumatera Utara, 03 Gambus (Sumut).mp3
4. Rabab Kampar dari Riau, 04 Rabab Kampar (Riau).mp3
5. Serunai Tabuang dari Riau, 05 Serunai Tabuang (Riau).mp3
6. Rabab Pasisia dari Sumatera Barat, 06 Rabab Pasisia (Sumbar).mp3
7. Sampelong dari Sumatera Barat, 07 Sampelong (Sumbar).mp3
8. Dadung dari Jambi, 08 Dadung (Jambi).mp3
9. Senjang dari Jambi, 09 Senjang (Jambi).mp3
10. Gamat dari Bengkulu, 10 Gamat (Bengkulu).mp3
11. Kromong Duabelas dari Bengkulu, 11 Kromong Duabelas (Bengkulu).mp3
12. Gambus Runik dari Lampung, 14 Gambus Runik (Lampung).mp3
13. Dikir Baru dari Lampung, 15 Dikir Baru (Lampung).mp3
14. Gambus Baru dari Lampung, 16 Gambus Baru (Kampung).mp3
15. Suling Balawung dari Kalimantan Tengah, 17 Suling Balawung (Kalteng).mp3
16. Karungut dar Kalimantan Selatan, 18 Karungut (Kalsel).mp3
17. Rebana Biang dari Betawi, 01 Rebana Biang (Betawi).mp3
18. Samrah dari Betawi, 02 Samrah (Betawi).mp3
19. Gambang Kromong dari Betawi, 03 Gambang Kromong Betawi.mp3
20. Rebana Ketimpring dari Betawi, 04 Rebana Ketimpring Betawi.mp3
21. Salawat Brahi dari Jawa Barat, 20 Salawat Brahi (Jabar).mp3
22. Goong Renteng dari Jawa Barat, 21 Goong Renteng (Jabar).mp3
23. Tarawangsa dari Jawa Barat, 01 Tarawangsa Jabar.mp3
24. Gamelan Ajeng Karawang dari Jawa Barat, 02 Gamelan Ajeng Karawang Jabar.mp3
25. Laras Madya dari Jawa Tengah, 23 Laras Madya (Jateng).mp3
26. Angguk Rame dari Jawa Tengah, 24 Angguk Rame (Jateng).mp3
27. Shalawat Bandongan dari Jawa Tengah, 05 Salawat Bandongan Jateng.mp3
28. Bongkel dari Jawa Tengah, 25 Bongkel (Jateng).mp3
29. Gamelan Srimpen dari Surakarta, 06 Gamelan Srimpen Surakarta Jateng.mp3
30. Rinding Gumbeng dari Yogyakarta, 07 Rinding Gumbeng Yogyakarta.mp3
31. Cokekan dari Yogyakarta, 08 Cokekan Yogyakarta.mp3
32. Glipang dari Jawa Timur, 06 Glipang (Jatim).mp3
33. Sronen dari Madura, 05 Sronen (Madura).mp3
34. Kuntulan dari Banyuwangi, 04 Kuntulan (Banyuwangi).mp3
35. Angklung Caruk dari Banyuwangi, 09 Angklung Caruk Banyuwangi Jatim.mp3
36. Gamelan Gambang dari Banyuwangi, 11 Gamelan Gambang Bali.mp3
37. Pesantian dari Bali, 07 Pesantian (Bali).mp3
38. Genggong dari Bali, 08 Genggong (Bali).mp3
39. Semare Pagulingan dari Bali, 09 Semare Pagulingan (Bali).mp3
40. Langko dari Sumbawa NTB, 12 Langko Sumbawa NTB.mp3
41. Genang Gong dari NTB, 13 Genang Gong NTB.mp3
42. Sakeco dari NTB, 10 Sakeco (NTB).mp3
43. Preret dari NTB, 11 Preret (NTB).mp3
44. Tawaq-tawag dari NTB, 12 Tawaq-tawaq (NTB).mp3
45. Sasando Rote dari NTT, 14 Sasando Rote (NTT).mp3
46. Beghu dari NTT, 14 Beghu NTT.mp3
47. Leuk Bi Boko dari NTT, 15 Leuk Bi Boko NTT.mp3
48. Sasando Sabu dari NTT, 16 Sasando Sabu NTT.mp3
49. Tetentengan dari Sulawesi Utara, 26 Tetentengan Sulut.mp3
50. Lalowe Baru dari Sulawesi Tengah, 15 Lalowe Baru (Sultengh).mp3
51. Gamba-gamba dari Sulawesi Tengah, 16 Gamba-gamba (Sultengh).mp3
52. Lelegesan dari Sulawesi Tengah, 17 Lelegesan (Sultengh).mp3
53. Dadendante dari Sulawesi Tengah, 24 Dadendante Sulteng.mp3
54. Kecaping dari Sulawesi Selatan, 18 Kecaping (Sulsel).mp3
55. Gambusu dari Sulawesi Selatan, 19 Gambusu (Sulsel).mp3
56. Suling Dengkong dari Sulawesi Selatan, 20 Suling Dengkong2 Sulsel.mp3
57. Kesok-kesok dari Sulawesi Selatan, 21 Kesok-kesok Sulsel.mp3
58. Kelong Sagala dari Sulawesi Selatan, 22 Kelong Sagala Sulsel.mp3
59. Oore dari Sulawesi Tenggara, 20 Oore (Sultenggr).mp3
60. Gambusu dari Sulawesi Tenggara, 19 Gambusu Sul Tgr.mp3
61. Hawaian dari Maluku, 22 Hawaian (Maluku).mp3
62. Hondowai dari Papua, 23 Hondowai (Papua).mp3
Setelah yang sudah disebutkan diatas, betapa kayanya seni karawitan Indonesia. Sampai sekarang kenapa yang dikenal hanya karawitan Jawa saja? Bahkan sampai populer di luar negeri. Alangkah indahnya jika semua seni karawitan di Indonesia ikut populer. Para seniman daerah harusnya mengenalkan dan mengembangkan keanekaragaman seni karawitan yang lain yang masih belum di kenal bagi masyarakat kesenian lokal contohnya. Sangatlah bagus jika kesenian daerah menjadi high art di masyarakat seperti seni karawitan jawa yang sudah menjadi high art di luar negeri.
Dengan pengembangan kesenian masing-masing daerah khususnya kesenian lokal, tentunya tidak akan punah atau mati bahkan bisa sepopuler seperti seni karawitan jawa. Tidak itu juga, dengan berkembangnya kesenian lokal yang merupakan icon daerah bisa menambah aset perekonomian daerah karena dampaknya majunya kesenian lokal bisa menarik para wisatawan mancanegara. Contoh saja acara ngaben di Bali menjadi acara yang paling banyak ditunggu-tunggu oleh para Turis. Hal ini terjadi karena adanya konsistensi untuk menciptakan sesuatu yang atraktif secara kontinyu.
Produk kesenian bisa saja dibuat seperti itu. Misalnya dengan menciptakan Indonesia Arts Week yang menampilkan kesenian-kesenian Indonesia dengan skala yang gigantis dan menampilkan artis-artis populer dibuat secara rutin menjadi ritual raksasa yang pantas dihadiri secara masal dan dihadiri oleh turis.
Dengan pengembangan beberapa kesenian tersebut akan terangkatlah citra Indonesia dalam segi budayanya dan juga dalam peningkatan devisa.

Seni Gamelan Dalam Perubahan Sosial Kebudayaan


hqdefault

Tradisi adalah buatan manusia dan maka dari itu tradisi tersebut dicetuskan, dikembangkan, diubah sesuai dengan pandangan manusia peraganya. Perubahan kebudayaan mempengaruhi sikap pandang manusia peraga suatu tradisi dan menimbulkan kelestarian, perkembangan, atau perubahan dalam tradisi.
Pada waktu ada hubungan dengan kebudayaan asing, perubahan atau perkembangan kebudayaan mungkin sekali akan terjadi. Untuk mengerti secara utuh tentang perkembangan kebudayaan Jawa, kita harus membicarakan hubungan yang telah lama terjadi antara Jawa dan kebudayaan asing.

Peristiwa budaya kraton Jawa dari abad ke-19 dan awal abad ke-20, menggambarkan suatu percampuran antara gagasan-gagasan Jawa (asli) dan Eropa (asing). Peristiwa campuran yang membentuk perwujudan musikal yang unik disebut di atas adalah suatu akibat dari reaksi orang Jawa terhadap keadaan politik tertentu sepanjang terjadinya hubungan terus-menerus antara orang-orang Jawa dan kolonialisme Eropa.

Hadirnya kebudayaan Eropa dan musik Eropa di Jawa dapat dilacak kembali pada abad ke-17. Pada akhir abad ke-18, sebagai akibat meningkatnya campur tangan orang Eropa dalam kehidupan aristokrat Jawa, kebudayaan Eropa menjadi salah satu bagian dari kehidupan kraton.(Sumarsam 2003: 4)
Pada dekade kedua abad ke-19, Thomas Stanford Raffles, Gurbenur Jendral Inggris untuk Jawa (1810-1816), sudah melihat banyak perubahan dalam adat istiadat kraton: “Upacara dan kenegaraan kraton yang asli telah kehilangan banyak ciri-ciri keasliannya, disebabkan masuknya adat-istiadat Eropa, yang dikenalkan oleh Belanda setelah perang Jawa terakhir” (Raffles 1982[1830],I:311). Antara lain, hubungan antara wanita kraton dan orang Eropa (laki-laki atau wanita), upacara minum kehormatan cara Eropa (toasting) dan dansa di kamar bola, dan musik Eropa, semuanya telah menjadi kebiasaan tetap kehidupan kraton.

Periode akhir perang Jawa yang disebut Raffles adalah masa setelah pertentangan kekuasaan yang berlarut-larut antara pangeran-pangeran yang mengakibatkan pembagian kerajaan Mataram pada tahun 1755. Ini adalah periode ketika administrator Belanda, pengusaha perkebunan dan direktur perusahaan dagang, dan yang belakangan pejabat-sarjana Belanda, menjadi lebih banyak mencampuri kehidupan politik dan sosial keluarga aristokrat Jawa. Akibatnya, kelompok-kelompok orang-orang Belanda ini diJawakan. Mereka hidup dalam suatu kebudayaan campuran, sebagian Eropa sebagian Jawa, yang dapat dinamakan sebagai kebudayaan mestizo (suatu kebudayaan yang terbentuk berdasarkan berbagai pengaruh yang berlainan). Mereka membentuk hubungan akrab dengan keluarga aristokrat Jawa. Sebaliknya, aristokrat Jawa diEropakan, sampai mereka merasa wajib memasukkan unsur-unsur Eropa dalam upacara kraton. Hal ini menimbulkan ekspresi kebudayaan kraton campuran.

Dari uraian fenomena diatas, jelas bahwa kebudayaan Indonesia mengalami perkembangan sesuai keadaan dan situasi zaman. Hal itu juga berpengaruh pada kesenian yang hidup dan bekembang dalam wilayah tersebu. Salah satunya adalah bentuk kesenian gamelan yang juga ikut menggalami perkembangan dari masuknya budaya Barat yang semakin digemari bangsa ini.
Dengan adanya hal tersebut, penulis mencoba menggali informasi tentang bagaimana kesenian gamelan pada perkembangannya dalam fungsi social dan lingkup budaya lainnya.

Mengingat banyaknya permasalah yang bias dijadikan materi pembahasan, maka penulis merumuskan topik yang akan menjadi pokok dalam tulisan ini adalah tentang sejarah dan perkembangan gamelan dalam sosiologi seni.

Gamelan adalah ansambel musik Jawa. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa, gamel yang berarti menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda.
Gambaran tentang alat musik ansembel pertama ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah, yang telah berdiri sejak abad ke-8. Alat musik semisal suling, bambu, lonceng, kendang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, ditemukan dalam reliefnya. Namun, sedikit ditemukan elemen alat musik logamnya. Bagaimanapun, relief tentang alat musik tersebut dikatakan sebagai asal mula gamelan.

Seni gamelan Jawa mengandung nilai-nilai historis dan filosofi bagi bangsa Indonesia terutama masyarakat Jawa. Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledak-ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama.

Seperti halnya kesenian atau kebudayaan yang lain, gamelan Jawa dalam perkembangannya juga mengalami perubahan-perubahan dalam sosial budaya. Secara filosofis gamelan Jawa merupakan satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa. Hal demikian disebabkan filsafat hidup masyarakat berkaitan dengan seni budayanya yang berupa gamelan Jawa serta berhubungan erat dengan perkembangan religi yang dianutnya.

Pada masyarakat jawa gamelan mempunyai fungsi estetika yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial, moral dan spiritual. Gamelan memiliki keagungan tersendiri, merupakan seni yang adi luhung, penuh dengan estetika, keharmonisan, ajaran-ajaran, filsafat-filsafat, tata krama, kemasyarakatan, toleransi, pembentukan manusia-manusia yang bermental luhur, tidak lepas pula sebagai faktor pendorong insan dalam beribadah terhadap Tuhan, yaitu dengan sarana kerja keras dan itikat baik menjaga seni dan budaya sendiri.

Di samping interaksi Jawa dengan Barat yang menghasilkan ekspresi-ekspresi kebudayaan campuran, apakah ada ekspresi kebudayaan yang mewakili sistem-sistem nilai tradisional Jawa dan pra-Barat? Jawabnya, ada. Tetapi akan naif untuk mencoba memberikan jawaban sederhana kepada pertanyaan ini, karena tradisi kebudayaan Jawa tidak dapat dijelaskan keseluruhannya hanya berdasarkan pada pertemuan antara gagasan-gagasan Jawa dan Barat saja.

Sebelum kebudayaan Eropa masuk Jawa, tradisi Jawa telah lama mengalami perkembangan; elemen-elemen asing banyak yang telah diserap. Unsur-unsur asing ini yaitu elemen-elemen Hindu, Budhhist, dan Islam semua disinkretisasikan dan diserap ke dalam matriks kebudayaan kraton Jawa “asli” yang menjadi sangat kompleks.
Di sini harus ditekankan bahwa agama melandasi kebudayaan tradisional kraton Jawa. Penyerapan kebudayaan Eropa amat sangat berbeda karena ia pada dasarnya sekular (agama Eropa tidak mempunyai akibat yang berarti di Jawa). Pada hakikatnya, agama adalah merupakan landasan persepsi orang Jawa atas masyarakat mereka.(Sumarsam 2003: 7)
Peranan agama dalam penyebaran kebudayaan asing di Jawa ini membuat istilah “Hinduisasi,” menjadi lebih sesuai sebagai penjelasan pengaruh kuat kebudayaan India. Namun demikian, prosesnya tidak merupakan hal yang sederhana yang mana Hinduisme menggantikan sistem kepercayaan Jawa. Masalahnya bersangkutan dengan proses adaptasi yang berjalan lama yang mana materi-materi India cenderung diretak-retak dan diwujudkan kembali dan maka dari itu dikuras makna aslinya dengan suatu proses yang saya [wolters] akan sebut “lokalisasi”. Materi-materi itu, apakah bahasa, suara bahasa, buku, atau benda-benda seni, harus dilokalisir dengan cara berbeda-beda sebelum mereka dapat cocok dengan bermacam-macam kekomplekan lokal atau berbagai sistem agama, sosial, dan politik dan sebelum dimiliki oleh kebudayaan baru “secara utuh”. (Wolters 1982:52).
Dalam studinya tentang alat-alat musik dari jaman Hindu-Jawa, Kunst (1968:10) menyimpulkan bahwa pertunjukan musik India terdapat hanya di lingkungan kelas-kelas penguasa. Apakah ada pengaruh India terhadap seni Gamelan Jawa dalam periode Jawa-Hindu? Kurangnya data mencegah kita untuk dapat menjawab pertanyaan ini. Tetapi ada cukup fakta yang menunjukkan bahwa karya sastra dan nyanyian-nyanyian-puisi kawya India berpengaruh signifikan pada perkembangan berbagai jenis karya sastra Jawa dan musik vokal. Pen-Jawaan nyanyian-nyanyian-puisi India mengikuti proses yang dijelaskan oleh Wolters. Kawya India secara berangsur-angsur dilokalisir. Akhirnya, yang masih tertinggal berciri India hanya aturan-aturan metris puisinya saja. Kawya menjadi puisi kekawin Jawa. Pada periode belakangan sejarah Jawa, kekawin tersebut diberi lagu-lagu baru dan dinamakan sekar ageng (“nyanyian luhur”).
Sebagaimana umumnya diketahui, sinkretisasi yang berjalan lama dan bertahap darielemen-elemen Hindu-Budha ke dalam sistem-sistem kepercayaan Jawa membentuk sistem nilai Jawa tradisional. Landasan sistem nilai tradisional Jawa ini hidup sangat kukuh sehingga kedatangan Islam tidak mengakibatkan perubahan nilai yang berarti. Ini dikarenakan “adanya banyak elemen kesesuaian dan kecocokan antara jenis Islam yang masuk Jawa pada abad ke-15 dan ke-16 dengan tradisi budaya yang mereka hadapi” (Anderson 1990:68).
Anderson menjelaskan penyebaran Islam di Jawa lebih banyak bersifat proses asimilatif daripada proses revolusioner, yang dapat dihubungkan dengan kenyataan bahwa Islam datang ke Jawa “berkaitan dekat tidak dengan penaklukan tetapi perdagangan”. Pertama-tama Islam dibawa pedagang dan tidak pernah kehilangan ciri-ciri asalnya, mengembangkan kedudukannya yang paling kuat di kelas menengah, komersial, bukan pejabat kelas atas yang lebih rendah, lapisan petani. Setelah periode awal yang penuh ketekunan dan kerja keras, aliran Islam yang saleh sedikit lebih banyak diserap ke kehidupan patrimonial. Di satu pihak, Islam yang telah datang ke Jawa melalui Persia dan India menjadi patrimonial dan maka pada umumnya sejajar dengan kiblat dunia Jawa tradisional (terutama yang sehubungan dengan fungsi dan pentingnya raja). Di lain pihak, setelah abad ke-15, para penguasa mengambil gelar-gelar Islam, memelihara pejabat-pejabat Islam ke dalam kelompok mereka, dan menambahkan Islam sebagai perlengkapan lambang kepangkatan mereka. Namun demikian keterbukaan Islamisasi para penguasa ini rupanya tidak mengakibatkan perubahan yang besar-besaran dalam cara hidup atau pandangan mereka.
Penting untuk dikemukakan di sini bahwa Islam Sufi mendominir awal pengIslaman Jawa. Ini membantu ketahanan dan perkembangan seni tontonan tradisional sebelumnya, karena Sufisme percaya pada kekuasaan musik sebagai jalan untuk menyatukan manusia dan Tuhannya. Langkah dan sikap positif Sufisme terhadap musik ini menopang perkembangan musik Jawa dan musik Islam. Malahan ada bukti bahwa dua musik ini berinteraksi, mendorong perkembangan gamelan Jawa dan pen-Jawaan musik Islam terbangan (rebana).
Sebagaimana saya kemukakan sebelumnya, sinkretisasi dan lokalisasi elemen-elemen Hindu, Budha, dan Islam membentuk matriks kebudayaan kraton Jawa “asli”. Dalam bukunya State and Statecraft in Old Java, Moertono (1968) menjelaskan komponen yang penting dari sistem-sistem lebih umum nilai kebudayaan Jawa. Menurutnya, sikap hidup tradisional Jawa diatur oleh ikatan kawula-gusti, sejenis pertalian yang terwujud dalam semua aspek kehidupan Jawa, keagamaan maupun sekular. Seni pertunjukan Jawa berkembang dan diolah di lingkungan ikatan kawula-gusti. Lingkungan semacam ini meluangkan seniman (yang dianggap sebagai abdi kraton, abdi dalem) mempunyai hubungan dekat dengan gustinya (para pangeran dan para raja). Para gusti ini tidak hanya diwajibkan menerima pendidikan kesenian sebagai bagian dari pendidikan hidup mereka, tetapi mereka juga mempunyai hubungan erat dan dapat bertukar pikiran dengan seniman-seniman. Anderson (1984:210) menyimpulkan tentang keintiman dalam lingkungan kraton ini sebagai berikut.
Dalam konteks di mana puisi dan tembang tidak dapat dipisahkan, dan keduanya terikat pada musik dalam pengertian yang luas, tidak mengejutkan kalau para seniman dalam bidang ini gampang bergaul, tukar-menukar gagasan, dan sering mempunyai pangkat sepadan dan penggajihan yang sesuai dengan sistem kepangkatan kraton.
Dalam studinya yang penting tentang Kekuasaan Jawa, Benedict Anderson (1972: 82) mengusulkan bahwa konsep inti kekuasaan tradisional terletak pada kemampuan seseorang untuk memperoleh kekuasaan dengan jalan sebagai berikut: “Memfokuskan Kekuasaan dalam pribadinya sendiri, menyerap Kekuasaan dari luar, dan memusatkan dalam dirinya hal-hal yang tampak bertentangan”. Untuk ini patutlah kalau kita melihat gamelan selama masa-masa kekuasaan aristrokrat Mataram dalam konteks pandangan Kekuasaan Jawa tradisional sebagaimana secara garis besar diuraikan oleh Anderson itu. Sebagian besar prabot-prabot kraton seperti instrumen gamelan dianggap sebagai benda-benda yang bertuah.
Contoh yang paling layak dari pentingnya seni pertunjukan sebagai suatu pertanda kekuasaan raja adalah keterlibatan gamelan pada upacara-upacara atau pesta-ria kraton. Benar, penyelenggaraan upacara-upacara kraton sebagian dimaksudkan untuk mengekalkan kesetiaan para pengiring raja. Tetapi penyeenggaraan itu juga “dimaksudkan untuk memusatkan dan memamerkan Kekuasaan yang diserap dari bermacam-macam sumber”.

Tradisi sinkretis Islam yang lama mengalami kemunduran, akhirnya hilang dari kraton, dan lingkungan hubungan sosial yang akrab di kraton juga menghilang. Pencampuran orang-orang Eropa dalam kehidupan aristokrat Jawa memperuncing sistem kelas, mengakibatkan putusnya hubungan akrab antara seniman dan gusti-gusti pendukungnya.(Sumarsam 2003: 11)
Dalam kebudayaan kraton berciri campuran pada abad ke-19, dapat dilihat dua macam hubungan sosial Jawa-Eropa. Pertama, interaksi sosial yang akrab antara pejabat Belanda dan Indo, pengusaha perkebunan dan direktur perusahaan, dengan bangsawan Jawa mengilhami ritual-ritual kraton berciri campuran Jawa-Eropa. Kedua, pada pertemuan abad ke-19, kelompok orang Eropa dan Indo yang lain, yaitu pejabat-sarjana dan penggemar kesenian, mempunyai hubungan intelektual yang akrab dengan bangsawan Jawa dan pujangga kraton. Mereka berinteraksi dalam tingkat hubungan setara. Hubungan antara intelektual Jawa, Eropa dan Indo ini mencirikan suasana intelektual pada waktu itu. Orang-orang intelektual ini sering menghasilkan karya yang menerangkan perilaku budaya dan perspektif Jawa abad ke-19.
Akhir abad ke-19 menyaksikan ekspansi pendidikan gaya Eropa untuk orang Jawa elit, Cina dan Indo. Ini terutama benar pada permulaan abad ke-20 ketika pemerintah kolonial Belanda melaksanakan “Kebijakan Etis”, yang didasarkan demi keprihatinan kemanusiaan atas kondisi ekonomi orang pribumi (Ricklefs 1993: 151). Salah satu cara untuk melaksanakan kebijakan ini adalah ekspansi pendidikan gaya Eropa. Ini membawa pada peningkatan keterbukaan kelompok-kelompok tertentu yang disebut di atas pada cara pikir Eropa. Akibat penting dari pendidikan Eropa ini adalah bangkitnya nasionalisme Indonesia di antara orang Jawa berpendidikan Belanda dan beberapa orang Indo dan Cina terkemuka.

Dengan latar belakang nasionalisme ini, musik gamelan berlanjut hidupnya. Musik juga menjadi persoalan kontroversi di antara tokoh-tokoh nasionalis Indonesia. Dalam usaha mereka mendefinisikan kebudayaan nasional Indonesia, mereka menghadapi kesukaran menemukan suatu ekspresi kebudayaan tunggal yang dapat dihargai dan dinikmati oleh semua orang Indonesia. Seorang nasionalis termuka, Ki Hadjar Dewantara, mengusulkan bahwa kebudayaan nasional harus mewakili puncak-puncak kesenian daerah. Sebagai seorang berdarah bangsawan, Ki Hadjar berpikiran bahwa seni tontonan Jawa, diantaranya gamelan, adalah salah satu dari puncak-puncak kesenian kebudayaan daerah yang memang paling menonjol. Ia dan para bangsawan lainnya menganjurkan bahwa gamelan adalah kesenian yang sebanding dengan Seni musik klasik Eropa. Tetapi beberapa nasionalis, terutama non-Jawa, tidak dapat menerima pikiran Ki Hadjar tentang kebudayaan nasional Indonesia ini. Akibatnya, persoalan mengenai apakah gamelan harus diangkat menjadi musik nasional tetap berlanjut.
Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1950-an dan 1960-an pemerintah mendirikan sekolah gamelan. Seperti dalam periode awal nasionalisme, sekolah ini harus memberi alasan tentang relevansi gamelan di masa Indonesia modern. Pimpinan terkemuka akademi gamelan (Akademi Seni Karawitan Indonesia, ASKI), yang sekarang ISI Surakarta. Sedyono Humardani (1972), juga menganjurkan suatu gagasan tentang gamelan sebagai musik klasik, musik yang menurutnya harus mempunyai makna universal. Sebagai bagian upaya memasakinikan gamelan, akademi ini juga mendorong anggota pelajar dan mahasiswanya untuk mencipta komposisi-komposisi baru untuk gamelan. Bahkan para seniman muda memunculkan paduan musik baru jazz-gamelan, melahirkan institusi sebagai ruang belajar dan ekspresi musik gamelan.

Gamelan memang layak dijadikan music nasionalisme, karena pada masa kekeratonan gamelan menjadi budaya yang sangat sacral didalam lingkup wilayah keraton. Bahkan dulunya hanya orang-orang berdarah bangsawan saja yang bias menikmati alunan musik gamelan.