UBEK HATI (Tombo Ati Cover), Bukan sekedar Cover Lagu


Ubek Hati adalah lagu Etnik kedua yang telah saya produksi, lagu Etnik pertama adalah Indonesia Raya. Hal yang paling menarik saat memproduksi musik etnik adalah prosesnya. Karena kami harus banyak melakukan riset dan observasi. Hal ini yang membuat wawasan kami jadi bertambah, hehe.. Yang kedua, Menggarap lagu Etnik berarti harus membaca budaya masyarakatnya. sehingga nada-nada yang tercipta akan lebih bernyawa, jadi tak asal menggunakan alat musik tradisional. Nah, sebelum saya cerita lebih lanjut, ada baiknya kita mengulik tentang makna yang terkangung dalam lagu Tombo Ati. Karena di lagu ini saya menggunakan etnik Minang, maka judul Tombo Ati berubah jadi UBEK HATI.

Ubek Hati (Bahasa Minang) berarti Obat Hati, diambil dari tembang Jawa karya Sunan Bonang yang berjudul Tombo Ati (penyembuh hati). Sesuai judulnya, tembang ini digunakan beliau dalam berdakwah di Jawa. Sunan Bonang sangat mengerti kekayaan budaya Lokal, maka dengan pendekatan seni dan budaya lah beliau membuat karya-karya bernuansa Jawa dalam menyebarkan ajaran Islam.

Tombo Ati adalah obat untuk penyembuhan hati. Begitu kira-kira yang saya tafsirkan dari misi Sunan bonang dalam menyampaikan lima amalan ibadah kepada masyarakat Jawa secara islam. Agar dengan menjalankan lima amalan tersebut hati kita akan lebih tenang, lebih tentram dan hidup kita akan lebih terang. Amiiin ya Robbal Alamin.

Berikut adalah lirik versi Jawa :

Tombo ati iku limo perkarane

Kaping pisan moco Qur’an lan maknane

Kaping pindo sholat wengi lakonono

Kaping telu wong kang sholeh kumpulono

Kaping papat kudu weteng ingkang luwe

Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe

Salah sawijine sopo biso ngelakoni

Mugi-mugi gusti Allah nyembadani

Dalam terjemahan bahasa Indonesia yaitu :

Obat hati ada lima perkaranya

Yang pertama baca Qur’an dan maknanya

Yang kedua sholat malam dirikanlah

Yang ketiga berkumpulah dengan orang sholeh

Yang keempat perbanyaklah berpuasa

Yang kelima dzikir malam perpanjanglah

Salah satunya siapa bisa menjalani

Moga-moga gusti Allah mencukupi

Dalam mengarrangement tembang Tombo Ati (Baca : UBEK HATI) karya Sunan Bonang, saya ingin membawa ke nuansa Minang. Mengapa ? karena ternyata lagu Ubek Hati sudah sangat akrab buat masyarakat Minang. Hanya saja belum ada lagu yang digarap secara serius apalagi dengan nuansa tradisi yang kental. Selain itu daerah Minang ini sangat kental dengan nuansa islaminya.  Jadi saya berharap lagu dengan nuansa Minang ini bisa diterima masyarakat sana. Syukur-syukur bisa berfaedah hehe…

Dalam penggarapan lagu ini, selain menggunakan bahasa Minang kami juga memperhatikan etnomusikologinya. Oleh karena itu instrument yang dipakaipun dominan dari etnis Minang misalnya adalah Saluang, Talempong Pacik, Kecapi Minang dan Tambur. Kemudian dikolaborasikan dengan rebab Jawa dengan cengkok rebab Darek Minang dan musik bernuansa islami seperti bedug. Perpaduan komposisi musik diatas dengan gaya vokal etnis Minang di lagu ini maka akan memperkuat kultur dan budayanya (persepsi saya sih).

Lagu Ubek hati ini tak ujug-ujug jadi. banyak proses dan hambatan didalamnya. salah satu yang paling sering adalah proses revisi dan mixing. Apalagi mas Agoessam cukup cerewet saat mendengar tiap nada. Kurang ini kurang itu, bahkan tak jarang kami beradu argumen untuk mempertahankan ide masing-masing. Tapi saya ambil positifnya saja. karena saya memang perlu banyak kritik dan masukan. Yang penting, semua masalah dapat terselesaikan dan lagu Ubek Hati dapat anda dengarkan. itu adalah kebahagiaan dan kepuasan yang tak terhingga.

Jika diibarat masakan sudah siap disantap. begitu pula dengan lagu Ubek Hati, sudah siap anda nikmati. Bagi saya, setiap sajian akan memberikan pengalaman tersendiri bagi pembuatnya. Baik dari proses teknisnya, pergulatan waktu, pengembangan ide maupun penggarapannya. Tapi yang pasti saya mendapatkan banyak pengalaman yang sangat berharga. Saya jadi lebih memahami budaya Minang (meski dari musiknya saja). Belum lagi bertambahnya teman baru. Siapa lagi kalau bukan anak-anak musisi Minang yang sedang mendalami musik di jurusan Etno-musikologi di ISI Jogja. Makasih buanget brooo. Kalian memang ngeten!!! Dua Jempol dah buat kalian.

Bagi saya proses berkarya ini adalah pembelajaran. belajar mengenali lingkungan, menegnali budaya termasuk mengenali diri saya sendiri. Semoga melalui musik ini kami bisa berkontribusi agar kebudayaan Nusantara tetap lestari. Karena terlalu sayang jika warisan kekayaan yang luar biasa ini dilewatkan begitu saja. kalau bukan generasi kami siapa lagi. Semoga sajian karya sederhana ini dapat menambah kecintaan kita kepada negeri. Syukur-syukur karya ini dapat di terima masyarakat secara luas. Ohya, kedepan kami akan berusaha sekuat tenaga agar karya-karya mendatang bisa tertampung dalam karya besar saya yaitu Album Etnik Nusantara. Mohon Doa dan Supportnya ya kawan… #SalamNusantara

Kredit Title

Judul Lagu                   : UBEK HATI (COVER Tombo Ati)

Pencipta                    : Sunan Bonang

Producer                     : Agoessam

Arranger                     : Eldian Nilam

Vocal                        : Frendy Satria Palindo

Choir                        : Bina Vokalia Solfegio Music School

Main Player

Saluang                       : Frendy Satria Palindo

Rebab                         : Eldian Nilam

Additional Player

Kecapi Minang         : Farid Al Kindy

Talempong Pacik 1     : Subhan Alfarizi

Talempong Pacik 2     : Rifaldo Bhebrian Lendra

Tim Produksi

Director                : Agoessam

Cameramen 1             : Agoessam

Cameramen 2             : Rizky Al Vajra

Editor                  : Agoessam

Post Production         : Bintangpagi Production

Studio Mixing           : Harmony Studio

Thanks to :

Tuhan YME

Teman-teman Etno-musikologi ISI yang terlibat di Jogja

Bpk Ery Sucahyo

Solfegio Music School

Para Wali murid Solfegio Music School atas atensinya sehingga video klip ini

Bintangpagi Production

Dan semua sahabat yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu

Advertisements

Piano, langkah awal belajar musik


Seringkah anak anda menirukan lagu-lagu populer atau musik pengiring film? Tidak banyak orang tua yang melihat bakat musik yang dimiliki anak mereka. Tidak jarang orang tua yang mulai berpikir untuk memasukkannya ke sekolah musik. Lantas, alat musik apa yang sebaiknya dipelajari dulu? Apakah Piano, Biola, Gitar atau Drum?

Memilih instrumen musik yang tepat untuk awal belajar musik bagi anak memang sangat penting, karena merupakan fondasi untuk mengetahui musik lebih lanjut. Menurut Bina Jung, salah satu pendiri Aureus Academy yang merupakan sekolah musik terkemuka di Singapore. Piano adalah alat musik pertama yang dipelajari anak.

Piano merupakan gerbang menuju pembelajaran instrumen lain, karena piano menyediakan fungsi ganda untuk mempelajari musik lebih luas. Piano meningkatkan koordinasi kedua tangan, karena harus membaca dua baris musik yang terpisah pada waktu yang sama, sekaligus mencakup konsep musik dasar seperti mengidentifikasi nada-nada.

Tak masalah jika anak sudah mulai belajar memainkan intrumen musik yang lain. Ada baiknya jika anak belajar piano mulai usia 4 tahun. Kenapa anak harus mulai usia dini? Di usia inilah anak mulai mengembangkan ketrampilan motorik dan mampu memahami instruksi. Berikut 5 manfaat bermain piano untuk anak :

1. Mengembangkan kemampuan kognitif dan koordinasi.

Bermain piano melibatkan mata, telinga, tangan, kaki, otak dan jantung. memainkan instrumen ini menjadi dasar yang baik bagi anak untuk mengembangkan fungsi-fungsi kognitif, koordinasi dan kemampuan multitasking seperti : melatih mata untuk membaca nada, tangan untuk mengarahkan jari-jari bergerak, membantu tangan kanan dan kiri dalam mempratekkan tehnik-tehnik yang berbeda, menjaga detak dan ritme yang konsisten. Apabila memainkan musik cepat secara tidak langsung membuat jantung terpompa sesuai dengan pola ritmenya dan apabila memainkan musik pelan maka akan membuat rileks.

2. Meningkatkan keyakinan diri anak.

Belajar piano butuh kerja keras dan dedikasi. Anak yang sudah bisa menguasai satu lagu bukan hanya meningkatkan keyakinan diri anak, memamerkan bakat yang baru dipelajarinya, bisa meningkatkan kepercayaan diri. Pemahaman saat menguasai ketrampilan baru adalah proses yang membutuhkan, dan ini membantu anak menjalankan tugas dengan percaya diri dan tidak mudah putus asa.

3. Mengembangkan imajinasi anak.

Dengan mempelajari gaya musik yang berbeda-beda, dan memahami bagaimana suatu komposisi dibentuk dari nada, frase, ritme dan gaya, anak akan mengerti betapa rumitnya suatu karya musik. Anak akan apa yang dihasilkan dari 88 tuts pada piano dengan 7 set nada yang berulang-ulang. Ketika telinganya terbiasa mendengarkan musik pengiring dalam film, hal itu juga akan mengembangkan imajinasi anak. Anak akan belajar bagaimana menciptakan komposisi musik yang mengilustrasikan situasi tertentu.

4. Mengajarkan anak untuk tetap fokus dalam mencapai tujuan.

Belajar piano membantu anak menetapkan tujuan yang spesifik dan kemudian bekerja keras untuk mencapai tujuan. Mempelajari setiap potongan musik baru membutuhkan sejumlah ketrampilan dan kebiasaan bermain khusus. Untuk mencapai tujuan ini, anak perlu belajar fokus dan mempelajari setiap nada, memahami bagaimana memainkan lagu tersebut. Saat melakukannya, anak belajar untuk berpikir kritis dan kreatif karena mereka harus berpikir bagaimana membuat musik itu menjadi hidup. Belajar fokus lama kelamaan membuat kebiasaan belajar terjadi dengan sendirinya.

5. Belajar piano itu permainan yang menyenangkan.

Memainkan lagu-lagu sederhana yang bisa dinyayikan merupakan hal yang menyenangkan bagi anak, apalagi keikutsertaan orang tua memainkannya dalam satu piano atau mengiringinya dengan alat musik yang lain. Belajar piano juga meliputi teori dan pengetahuan dasar bermusik. Keduanya merupakan kunci untuk menangkan dasar-dasar bermain musik, tidak peduli alat musik apa yang dimainkan anak kelak. Siapa yang tahu anak juga jadi termotivasi untuk membuat komposisi musik sendiri.

Secara keseluruhan, manfaat belajar piano bagi anak adalah mendorong perkembangan fisik, mental, emosional, sekaligus memberikan mereka kegiatan kreatif.

Belajar Piano Usia Dini


Terkadang para orang tua bingung menggali bakat anaknya sejak usia dini. 9 dari para orang tua lebih memilih musik untuk menggali bakat anaknya. Piano adalah alat musik yang lebih banyak diminati, karena mereka sadar bahwa piano bermanfaat untuk pendidikan di bidang lainnya.

Dua tahun yang lalu, orang tua dari si anak di video ini mencari tempat les piano untuk anaknya di usia 3 tahun. Kebanyakan sekolah musik menolak menerima karena di usianya yang sangat dini. Dan akhirnya si orang tua menitipkan anaknya kepada kami bawasannya kami memang membuka les piano untuk usia dini. Dengan ketelatenan kami mengajarkan piano untuk usia dini ini tidak dengan paksaan, tentunya dengan kegiatan menarik dalam kelas maupun di luar kelas (out door learning) sehingga si anak merasa senang belajar musik di kami.

Berikut rekaman video salah satu murid kami pada saat belajar piano di kelas.

Musik Hasil Kebudayaan


Musik.. kata yang tidak asing kita dengar. Ada yang mengartikan musik itu alunan irama dan lagu, ada lagi yang mengartikan keharmonisan suara, juga ada yang mengartikan suara yang dihasilkan dari alat-alat musik (instrument) dan vokal. Tentunya, saya tidak bisa menjabarkan satu per satu karena butuh pemahaman yang luas tentang arti musik.

Mari kita pejamkan mata dan hening sejenak beberapa detik,… Apa yang kita dengar?.. Apa yang kita rasakan?.. Bisa saja kita mendengar suara bising di tengah kota, bisa saja kita mendengar suara televisi atau radio, bisa juga kita mendengar suara di sawah ataupun kebun atau di hutan.

Terlintas di pikiran saya jutaan tahun yang lalu, seperti apa yang kita dengar saat itu. Alam menciptakan musik, saya membayangkan suara angin dan hewan terdengar dengan harmonisnya. Sampai akhirnya di zaman purbakala. Sejarah musik sudah dimulai pada zaman purbakala (Sejarah Musik Dunia 1). Musik tidak memiliki tujuan tersendiri, musik sebagai alat saja yang menghasilkan bunyi, media baik komunikasi ataupun untuk ritual magis mereka. Magis pada musik itu mereka tinjau dari tiga segi, yaitu : 1. Segi irama, tekanan-tekanan mereka membuat sendiri dengan hentakan kaki dan alat pukul yang mereka buat sendiri. 2. Segi pengulangan beberapa kali, menurut aturan yang berlaku pengulangan berkali-kali diperbolehkan. 3. Segi permainan, cara-cara diatur dan dikhususkan untuk fungsi magis.

Ketiga sifat itu terkandung dalam nyanyian dan tari yang mereka lakukan saat mereka berkumpul. Musik primitif nantinya akan diikuti oleh musik kuno yang tersebar di sebagian Eropa pada 1500 SM dan kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia, meskipun di beberapa belahan dunia sudah memiliki musik sendiri.

Bangsa Tiongkok memiliki catatan tentang musik dari orang-orang Tiongkok purba. Ada 482 buku karangan mereka yang masih tersimpan. Mereka menggunakan tangga nada pentatonis, yaitu tangga nada yang terdiri dari lima nada: F, G, A, C, D. Kurang lebih tahun 1200 SM, tangga nada pentatonis tersebut ditambahkan dua nada lagi, yaitu nada B dan E. Menurut teori mereka, satu oktaf dibagi atas 12 nada. Hal ini sudah mereka temukan kurang lebih sejak 2700 tahun sebelum masehi yang berarti lingkaran Kwin telah mereka ketahui jauh sebelum Phythagoras (550 SM).

Di Mesir tidak ada catatan peninggalan dari zaman Mesir purba. Pada gambar patung di bawah ini merupakan kehidupan masyarakat mesir kuno menunjukkan bahwa mereka sudah banyak menggunakan musik.

220px-LowClassAncientEgyptianStatuettes

Gambar : Mesir Kuno (wikipedia)

Di India nada primer orang Hindi ada 7 buah nada. Mereka membagi tangga nada mereka menjadi 22 bagian yang berbeda dalam satu oktaf. Mereka menggunakan 32 tangga nada turunan, dari tangga nada yang bermula dari A. Ritual keagamaan merupakan satu-satunya sifat musik India.

Gambar : Alat musik India (wikipedia)

 

Interval nada pada musik Arab sudah mencapai pembagian dalam 1 oktafnya. Hanya saja musik Arab tidak setua musik Hindu/India, kira-kira pada tahun 600 SM. Bangsa Israel sudah lama mencintai musik dan nyanyian, tujuannya untuk menambah kerohanian. Tulisan musik juga sudah mereka kenal, yaitu tulisan musik neginot.

Bangsa Yunani dapat disebut bangsa pemilik musik kuno terpenting. Bangsa Yunani kuno juga terkenal dengan musik. Bangsa Yunani kuno menggunakan musik untuk keperluan ritual kepercayaan. Lima abad sebelum Masehi, musik Yunani yang tergolong etnis-religius ini bagi mereka sangat tinggi kedudukannya. Musik, puisi dan tarian berhubungan dengan erat.

Lira Yunani kuno

Gambar : Alat musik Yunani kuno (wikipedia)

 

Di Indinesia memiliki ratusan alat musik yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. Setiap etnis di Indonesia memiliki alat musik/karawitan tersendiri yang khas, hal tersebut terbentuk dari budaya etnis masing-masing. Budaya dari etnis Sumatra tentu berbeda dengan Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi dan etnis Indonesia bagian timur lainnya. Hal inilah yang membuat Indonesia kaya akan keaneka ragam kesenian salah satunya seni musik.

Dari catatan Yi Jing, seorang pendeta Budha dari Dinasti Tang, yang berkunjung ke Nusantara pada abad ke-6, dia menyebutkan ada sebuah kerajaan yang dikenal dengan Moloyu (Melayu), yang berjarak 15 hari pelayaran dari Sriwijaya. Etnis Melayu ini tersebar dari Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Semenajung Malaya. Setiap etnis melayu di masing-masing wilayah mempunyai adat istiadat berbeda-beda sehingga lahir kesenian yang merupakan hasil budaya dari masing-masing daerah. Di Sumatra terkenal dengan kesenian talempongnya begitu pula di kalimantan dengan alat musik sape.

Di Jawa dibuktikan terdapatnya pahatan tentang sebuah pertunjukan musik pada relief candi Borobudur yang berdiri pada abad ke 8 pada masa wangsa Syailendra

Berkas:Musician Borobudur.jpg

Gambar : Sebuah pertunjukan musik kemungkinan bentuk awal gamelan.

 

Alat musik sebagai benda hasil budi daya (Budaya) manusia. Musik sebagai hasil kebudayaan juga mengalami kemungkinan yang sama dengan kebudayaan itu sendiri dalam pertumbuhannya. Sedangkan dalam perkembangannya sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor diantaranya Lingkungan Alam (masyarakat) dan Pencampuran sebagai akibat adanya pertemuan antar etnis/bangsa di dunia.

 

 

Indonesia Raya Versi Nusantara


Lagu Indonesia Raya merupakan lagu kebangsaan negara kita (Indonesia). Lagu ini diciptakan oleh Wage Rudolf Soepratman. Pada tanggal 28 Oktober 1928 lagu ini dikenalkan pada saat Kongres Pemuda II di Batavia. Lagu ini menandakan kelahiran pergerakan nasionalisme seluruh nusantara di Indonesia yang mendukung ide satu “Indonesia” sebagai penerus Hindia Belanda, daripada dipecah menjadi beberapa koloni. Indonesia Raya dipilih sebagai lagu kebangsaan ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Lagu Indonesia Raya dinyanyikan diberbagai ceremonial, yaitu pada saat upacara pengibaran bendera, di awal berbagai acara, dll. Lagu Indonesia Raya ini terdiri dari 3 bagian, yaitu :
Bagian 1 : “Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri jadi pandu Ibuku
Indonesia kebangsaanku bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru Indonesia Bersatu”
Bagian 2 : “Hiduplah tanahku hiduplah negriku bangsaku rakyatku semuanya. Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”
Bagian 3 : “Indonesia Raya Merdeka! Merdeka!, tanahku, negriku yang kucinta. Indonesia Raya Merdeka! Merdeka! Hiduplah Indonesia Raya. Indonesia Raya Merdeka! Merdeka!, tanahku, negriku yang kucinta. Indonesia Raya Merdeka! Merdeka! Hiduplah Indonesia Raya.

Di bagian pertama, Indonesia adalah Nusantara yang terdiri dari banyak pulau merupakan satu tanah kita, tanah kelahiran kita, tempat kita berpijak. Di bagian ini Indonesia Raya dinyanyikan dengan Maestoso (Agung). Di bagian tengah, Indonesia dengan keindahan dan kemakmuran negerinya, tanah yang subur serta rakyat yang makmur. Di bagian ini Indonesia Raya dinyanyikan dengan khimat. Bagian terakhir Indonesia Raya dinyanyikan dengan penuh semangat yang merupakan tujuan dari penciptaan lagu tersebut yaitu mengajak bersatu untuk merdeka.
Lagu Indonesia Raya dinyanyikan diberbagai ceremonial, yaitu pada saat upacara pengibaran bendera, di awal berbagai acara. Lagu Indonesia Raya pertama kali di arrangement oleh orang Belanda yaitu Jos Cleber pada tahun 1950 (wikipedia) dengan dengan arrangement simfony. Rekaman asli dari Jos Cleber sejak pada tahun 1950 direkam secara bersuara stereo pada tanggal 1 Januari 1992 dan direkam kembali secara digital di Australia dengan arrangement Jos Cleber oleh Victoria Philharmonic Orchestra di bawah konduktor oleh Addie Muljadi Sumaatmadja.

Selain diarrangement simfony Lagu Indonesia Raya juga diarrangement dengan iringan Marching Band pada saat upacara pengibaran dan penurunan bendera Merah Putih.
Indonesia adalah negara yang memiliki bermacam-macam etnis, banyaknya etnis di Indonesia membuat kebudayaannya sangat kaya dan beragam. Dibidang seni musik misalnya, Indonesia adalah rumah bagi berbagai musik etnik, memiliki beragam jenis musik etnik terbanyak dari pada negara-negara lain. Kurang lebih 223 alat musik yang ada Indonesia.

Dengan melihat sejarah lagu Indonesia Raya yang begitu nasionalisme, penulis ingin mengarrangement Lagu Indonesia Raya dengan versi ke-Indonesiaan yang kental dan menunjukkan Indonesia adalah Nusantara yang terdiri dari beribu pulau, berbagai macam suku dan kaya budayanya. Dengan nuansa Nusantara lagu Indonesia Raya tetap dilantunkan dengan agung, khidmat dan penuh semangat. Penulis tetap membawa rasa nasionalisme melalui musik dengan melibatkan musisi dari berbagai suku. Penulis berharap dengan arrangement yang diciptakan dapat dinikmati semua kalangan di Indonesia maupun pecinta musik etnis Indonesia yang ada di luar negeri.
Arrangement lagu Indonesia Raya dengan komposisi alat musik etnis Indonesia, antara lain :Rebab (Jawa, Kampar, Pasisia), Sape, Sasando, Gamelan Jawa Ansamble, Ritmis Bambu, Suling Batak, Suling Sunda, Saluang, Kendang (Ciblon, Jaipong, Bali), Jimbe, Angklung
Ansamble, Sronen, Kenong Telok, Kolintang Ansamble, Kethuk Bali, Maracas.
terdiri dari 11 unsur etnik di Indonesia antara lain : Nusa Tenggara Timur, Kalimantan (Dayak), Papua, Sumatra (Riau, Batak, Padang), Sunda, Jawa, Bali, Madura, dan Minahasa.
Dengan dibuatnya karya ini saya lebih senang menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya lebih bangga menjadi orang Indonesia. Alangkah indahnya jika orang Indonesia bisa hafal dengan syairnya karena karya ini, yang selama ini tidak banyak orang Indonesia hafal dengan lagu kebangsaannya sendiri.

“INDONESIA RAYA”
Ciptaan : W. R. Soepratman

Producer : Agoessam
Music Arranger : Eldian Nilam
Vocal : Iroel Mpal
Backing Vocal : Ganzer Lana, Tina Warau, Beatrix Thenu, Jhony Thenu, Chib, Wildan
Ethnic Player : Eldian Nilam, Uyau Morist, Ganzer Lana,Chib, Galih Kusuma, Deddy Kurniawan & Tim Kolintang SMPK St. Clara,

Additional Player : Dimas Febrianto, David Ananias, Mot, Frendy Satrio Palindo, Zisyon,
Ethnic Instrument : Rebab (Jawa, Kampar, Pasisia), Sape, Sasando, Gamelan Jawa Ansamble, Ritmis Bambu, Suling Batak, Suling Sunda, Saluang, Kendang (Ciblon, Jaipong, Bali), Jimbe, Angklung Ansamble, Sronen, Kenong Telok, Kolintang Ansamble, Kethuk Bali, Maracas.

Director : Agoessam
DOP : Agoessam, Moth
Choreography : Agoessam, Eldian Nilam, Ganzer Lana
Cameramen : Moth, Agoessam, Farid, Salman
Aerial Footage : Aerialindonesia.net
Video Footage : Agoessam
Equipment Support : Bintangpagi Production

Music Studio Recording
Record Vocal : Daztanians Production
Record Kendang & Kecak : Rain Paper
Record Sasando, Suling, Saluang & Vocal NTT : My Musicality
Record Sape : Morist Home Studio,
Record Rebab & Jimbe : Bintangpagi Production
Mixing : My Musicality

Thxs to :Tuhan YME, Teman-teman di Taman Baca Leda Bintang, Dsn Ranuagung-Probolinggo, SMPK St.Clara Surabaya, SDN Petemon II Surabaya,
Zisyon & Ronald, Mutiara, Salman, Panca, Dimas Hamzah, farid,
Bintangpagi Production, dan semua pihak yang telah membantu dan mensupport terselesainya karya ini.